13.8.10

Malamnya Sujud

Langit gelap dengan dua tiga bintang saja di sana. Tapi lampu-lampu neon cukup untuk menerangi jalanan yang lengang, memandu mata tua mengenali jejak masa lalunya.

*

Musholla Al Makmur ramai oleh anak-anak yang ribut rebutan makanan. Biasa, usai sholat tarawih pihak musholla selalu membagikan jajanan untuk anak-anak atau bagi siapa saja yang mau. Sudah tradisi, mungkin untuk mengundang anak-anak agar mereka rajin ikut sholat Tarawih. Atau karena manusia sesungguhnya selalu ingin berbagi, bisa jadi.

Orang-orang tua sebagian besar telah pulang ke rumah masing-masing, sementara ada beberapa yang tinggal untuk sekedar berbincang-bincang. Jarum jam baru menunjuk delapan lewat duapuluh.

“Jud, bodine maning kyeh nggo mboke!”1 Wa Sirah yang sedari tadi sibuk membagi-bagi makanan berjalan tergopoh keluar dari puntu rumahnya yang di samping musholla menyodorkan sebrengkos2 singkong rebus ke pangkuan Sujud yang duduk di tangga musholla. Sujud hanya mendongak dengan mulut yang melongo menerima brengkosan singkong rebus itu, lalu matanya mengikuti tubuh wanita tua yang pendek tapi cekatan itu yang sebentar saja sudah kembali berada di dalam rumahnya. Dengan mulut yang terus terbuka Sujud memegang dengan kedua tangannya bungkusan itu, kemudian mendongak lagi dan celingak celinguk.

“Wis gawa balik mana. Duwe rokok ora? Kyeh udud kyeh!”3 Sujud  dengan cepat mengalihkan tatapan ke belakang tubuhnya, pada arah suara itu berasal. Dilihatnya Ki Wage yang sama-sama duduk di tangga musholla yang mendorong bungkus rokok dan koreknya ke tempat dia duduk.

Ekspresi Sujud seperti biasa tak menunjukan senyum atau basa basi.  Tampilan wajah yang mungkin mudah dipahami oleh kebanyakan orang, tatapan mata lurus dengan mulut yang selalu terbuka. Dia mengambil begitu saja, sebatang rokok kretek, dinyalakan dan mendorong kembali kedua benda itu kepada pemiliknya.

Ki Wage duduk selonjor di undakan tangga musholla dengan kaki mengarah ke tempat Sujud duduk. Di samping Ki Wage,  menyender ke tiang musholla Wa Kampleng yang tak henti-hentinya bersendawa. Ustad Salim yang baru keluar dari dalam musholla pun kini ikut duduk diantara mereka.

“Gimana Jud puasanya?” tanya Ustad Salim.

Ora batal...”jawab Sujud singkat yang langsung di timpali Wa Kampleng. “Asal ora mikul gabah sadina-dina ya kuat Jud ya?”4

Sujud hanya menatap wajah-wajah di depannya itu bergantian. Mengatupkan bibirnya lalu menelan air liur kemudian menghisap rokok yang dijepit dengan jempol dan jari telunjuk tangan kanannya.

“Mbokene ora traweh kayane, Jud?”5 tanya Ki Wage kemudian.

“Lagi mumet.”

“Ari lagi mumet ya balik mana oh, tonggoni. Mana! Kyeh rokoke loro maning.”6

Sujud menerima dua batang rokok dari tangan Ki Wage dengan tangan kirinya dan langsung berdiri melangkah dengan tangan kanan mendekapkan bungkusan singkong rebus ke dadanya. Tanpa berkata apa-apa langkahnya langsung membawa tubuh yang berselempang sarung di pundak itu menjauh dari pandangan.

**

Sepeninggal Sujud kedua orang tua dan seorang ustad muda yang duduk di beranda musholla itu asyik bercakap-cakap menikmati kopi yang di hidangkan Wa Sirah. Wa Sirah sendiri sibuk menyiapkan tempat di dalam musholla untuk acara tadarusan yang biasanya diikuti para ibu-ibu dan remaja putri. Anak-anak sudah pergi entah kemana. Suasana tenang dengan desir angin yang tak berasa.

Ketiganya membicarakan Sujud, orang yang di mata mereka dianggap bloon dan patut dikasihani. Wa Kampleng yang rumahnya bersebelahan dengan rumah Sujud, hanya di batasi pekarangan selebar lapangan bulu tangkis, yang lebih banyak bicara. Selalu, menurutnya Sujud itu kalau bukan karenanya tidak akan bisa melakukan apa-apa. Dia lah yang mengajari Sujud banyak hal dari kecil.

“Kae bocah endase wareg pentungan kae. Sing cilik mula angger dikongkon ora bisa, langsung dikamplengi ora ning bapane ora ning emboke,7 papar Wa Kampleng.

Memang Wa Kampleng, orang tua yang dulu ketika masih segar  sehari-harinya bekerja mengurusi kambing titipan Haji Soleh dan melakukan pekerjaan apa saja pada orang yang menyambatnya, selalu  menjadi penolong ketika Sujud kecil menangis sendirian di pekarangan karena dipukuli orang tuanya. Wa Kampleng sering mengajaknya angon kambing, juga mengajaknya membantu mengumpulkan kelapa ketika dia disuruh mengunduh kelapa.

Sujud tumbuh bersama Wa Kampleng, laki-laki yang tak punya anak laki-laki dan kini tinggal berdua bersama putrinya yang bekerja sebagai pembantu pada Haji Soleh. Sujud tak pernah sekolah, tak pernah belajar mengaji, hidup hanya mengikuti kebiasaan orang-orang di sekitarnya yang selalu berkata kasihan melihat keadaannya.

Mungkin karena orang tuanya yang hanya petani lemah dengan sawah yang tak seberapa, sementara keluarganya yang berlimpah manusia dengan sebelas bersaudara yang sembilan diantaranya laki-laki, Sujud yang lemah daya tangkap otaknya menjadi terabaikan di rumahnya. Sujud lebih sering jadi sasaran pelampiasan kekesalan bapak atau ibunya.

Kini seluruh saudaranya telah berumah tangga, termasuk dua adik lelakinya yang bekerja di Jakarta. Dia sendiri yang belum menikah,  berdua dengan ibunya yang sangat tua meninggali rumah tua mereka yang sepi.

"Sarkam juga sudah tiga tahunan nggak pulang ya, Wa?" Tanya Ustad Salim pada Wa Kampleng mengenai adiknya Sujud yang bungsu.

"Wong tua ari galak karo bocah ya tuane diadohi. Untung bae Sujud bocahe kaya kae, angger moni lunga neng, sapa sing ngurus?" 8

***

Malam terus merambat. Ibu-ibu yang akan bertadarus satu demi satu berdatangan. Musholla kembali ramai oleh suara perempuan yang selalu tak mau diam.

Keterangan:
1. Jud, singkongnya lagi nih, buat ibumu.
2. Sebungkus, dengan daun.
3. Sudah bawa pulang sana. Punya rokok tidak? nih rokok nih.
4. Asal nggak nggak disuruh mikul gabah seharian, ya kuat Jud ya.
5. Ibuku kayaknya nggak teraweh Jud?
6. Kalo lagi mumet ya tungguin dong, sana! Nih rokoknya dua lagi.
7. Itu anak kepalanya kenyang pentungan itu. Sejak kecil kalau disuruh terus nggak bisa langsung dikemplangi tidak oleh bapaknya atau ibunya.
8. Orang tua kalau galak sama anak tuanya akan dijauhi. Untung Sujud anaknya begitu, coba kalau pergi, siapa yang mengurus?


 


10 komentar:

catatan kecilku mengatakan...

Cerita tentang Sujud lagi..? Apakah dia benar2 ada dan ini cerita dari kisah nyata..?

the others... mengatakan...

Wa Kampleng..? Kalau di tempatku Kampleng itu artinya menempeleng lho...

Aby mengatakan...

sujur itu siapa kang?
percakapannya saya gak ngerti kang, itu bahasa jawa yah?

Muhammad A Vip mengatakan...

Ini cerita fiksi semata, sementara untuk sosok Sujud saya mereka-reka berdasar pada pengalaman saya melihat beberapa orang dengan tipikal semacam itu. Untuk settingnya saya membayangkan kampung saya di Brebes sana. Jadi saya selipkan bahasa Brebes (Jawa) sebagai rasa kebanggaan saya pada tanah lair. Pinginnya seluruh teks berbahasa Brebes, tapi takut nggak ada yang baca. Sedang kampleng memang artinya menempeleng di tempat saya, tapi ini beda untuk membacanya, bukan e untuk kata embun, tapi e untuk tempe, dan kampleng ini kalo tangan tak bisa digerakkan, menggelantung begitu saja.

four dreams mengatakan...

wah bingung sayaaa :(

TUKANG CoLoNG mengatakan...

saya sujud gag cuma malem sih, tapi malem lebih kusyuk, hehe

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

jadi belajar bahasa jawa nih. hehee

Aby mengatakan...

emmm,, gitu ya kang
kirain real
___________________

bioskop gak bakalan tutup kang
hehe
lagian yang saya share kualitasnya gak sama dg yg diputar dibioskop, kualitasnya masih jelek (kamera panggung)
kualitas bagusnya tunggu DVDnya keluar dipasaran

TUKANG CoLoNG mengatakan...

bahasa daerah mana tuh pak?thy

Muhammad A Vip mengatakan...

bahasa brebes