5.8.10

Merdekanya Sujud


Matahari yang telah bergeser sedikit kebarat memang kini tertutup segumpal awan, tapi panas terus melabrak siapa saja yang berada di jalanan. Jalanan pun sepi lalu-lalang, orang-orang seperti biasa mencari nyaman. Jam di dinding warung Yu Sanah menunjuk pukul duabelas tigapuluh tiga menit. Ada empat orang di warung kecil itu: Johan preman desa, Imin pengikutnya Johan, Pak guru Warso dan Yu Sanah yang sibuk menggoreng tahu.

Dari warung yang sempit itu tak jauh oleh pandangan mata seorang lelaki tampak cekatan mengumpulkan buah kelapa yang berserakan. Ada beberapa gundukan kelapa di sana, di sebuah pekarangan rumah yang begitu luas dengan banyak pohon kelapa menjulang. Pekarangan rumah Haji Soleh tentunya. Dan seorang laki-laki yang cekatan itu adalah Sujud.


Pada tengah hari ketika orang sedang asyik menikmati makan siang atau duduk selonjor1 di teras rumah sepulang dari sawah, Sujud masih sigap dengan pekerjaannya. Sebenarnya apa yang terjadi bukan karena dia dipaksa oleh majikannya, karena pembantu di rumah besar itu sudah menyuruhnya berhenti untuk makan siang, tapi dalam kesendiriannya dia bekerja, sepertinya dia begitu menikmati segalanya. Gerakannya cepat, jarang terlihat dia duduk dalam banyak kesempatan ataupun banyak bicara.

Hal itu rasanya yang membuatnya disenangi oleh banyak orang yang butuh tenaganya. Karena bukan Haji Soleh saja yang selalu menyuruh Sujud, seluruh orang kaya di Silongok biasa memanfaatkan kemampuannya memanjat pohon kelapa, memikul hasil panen atau sekedar ngarit alias mencari rumput buat kambing. Dan ketika Sujud bekerja, bukan kepada siapa yang berani membayarnya mahal, tapi kepada siapa yang lebih dulu menyambatnya.

“Sudah jaman merdeka masih saja ada kerja rodi begitu, bagemana ini Pak Guru?” Seperti biasa Johan asal ngomong mengomentari yang tampak.

“Kerja rodi?” Pak guru Warso acuh tak acuh saja.

“Kerja rodi kerja paksa kan?!” Johan seperti minta kejelasan. “Lha kae2 panas-panas bukannya disuruh makan dulu, malah dijor bae.”

“Bokan bae wis dikongkon.3

“Alah, Kaji Soleh, dasar wong pelit.” Yu Sanah yang baru saja menumpahkan gorengan tahu ke penampan langsung nembak, “Padahal Kaji tapi nggak nyuruh orang sembahyang, ngasih makan juga paling lauknya tempe.”

“Aku pernah nemu kelapanya yang jatuh di luar pager, di jalan situ, tak kira nggak ada orang, eh pas tak ambil Kajine langsung kroangan4. Asem oya.” Imin sambil tangannya menunjuk-nunjuk ikut memanasi perbincanagan.

Haji Soleh memang terkenal pelit, sebagai orang yang terkenal sebagai orang terkaya sedesa dia sangat awas dengan segala yang jadi miliknya. Pekarangannya yang luas dipagari kawat. Pagar kawat itu pun dilumuri oli yang membuat orang-orang tak berani menyentuhnya. Dan jangankan masuk ke pekarangan untuk mengambil sesuatu, sekedar buah mangga yang jatuh di luar pagar pun tak bisa lepas dari pengawasan. Haji Soleh akan meneriaki siapa saja yang mencoba mengambil miliknya, bahkan tak segan menembaknya dengan senapan angin.

“Kamu kalau disuruh kerja sama Kaji Soleh mau enggak, Min?” Tanya Guru Warso pada Imin yang mulutnya sedang kepanasan makan tahu goreng.

“Pernah Imin, ya Min ya!?” Yu Sanah yang tetap berdiri di samping meja menimpali.

“Wis suwe, bikin kandang ayam yang di belakang itu. Kapok. Kaya kompeni, galak nemen5. Manggil orang pakenya potokan6, dilempar.”

“Sujud kira-kira pernah dimarahi apa nggak?”

“Kaji Soleh marahin Sujud ya males lah. Diajak ngomong juga ah uh ah uh tok,” komentar Yu Sanah yang kini duduk di samping Imin. “Sujud itu kalau diundang disuruh manjat kelapa, ditunjukkan mana-mana yang musti di petik ya sudah. Suruh manggul gabah, mikul bawang, kalau selesai ya sudah.”

“Enak kalau begitu jadi Sujud. Nggak banyak mikir, tinggal mengerjakan tugas-tugasnya, dibayar, pulang.”

“Kira-kira Sujud termasuk orang merdeka atau gimana Pak Guru?” tanya Johan seperti serius.

“Ya, orang merdeka ya begitu. Melakukan apapun tanpa beban. Merasa harus dilakukan ya lakukan. Nggak macem-macem yang bikin orang jengkel. Kamu duduk-duduk di sini makan apa saja kalau nggak bayar pasti bikin jengkel Yu Sanah, berarti nggak merdeka. Ya kan?”

“Merdeka apa sih, Pak. Sebenarnya?”

“Merdeka ya, bebas.”

“Aku merdeka berarti oh Pak Guru?”

“Tapi coba nggak bayar, diusir ya, Yu?”

“Sujud nggak bisa manjat kelapa ya diusir Kaji Soleh, Pak Guru.”

“Sujud datang ke rumah Kaji Soleh itu diminta. Dia tidak meminta pekerjaan, nggak mungkin diusir. Dia sudah ada harganya dari awal. Yang butuh Kaji Solehnya, bukan Sujud.”

Siang masih terik dan obrolan terus berlangsung di warung itu. Sementara Sujud sudah tak tampak lagi di pekarangan sana. Pasti dia sedang makan siang lauk tempe seperti yang dikatakan dalam perbincangan tadi. Dan sebagaimana dia bekerja dengan cekatan, makannya pun pasti cekatan. Sebentar lagi dia akan berada di pekarangan untuk meneruskan pekerjaannya dan orang-orang di warung itu mungkin tak akan  berhenti meperbincangkannya .

Keterangan:
1.Duduk dengan meluruskan kaki ke depan. 2. Lha itu. 3. Siapa tahu sudah disuruh. 4. Berteriak-teriak. 5. Sangat.  6. Balok kayu.

10 komentar:

four dreams mengatakan...

salam kenal :D
kunkunagn perdana :D

Aby mengatakan...

MERDEKA..
sekali merdeka tetap merdeka, selama hayat masih di kandung badan kita tetap setia tetap sedia mepertahan Indonesia

hihi

Muhammad A Vip mengatakan...

Terimakasih untuk merdekanya.

four dreams mengatakan...

MERDEKA bro :D

Aby mengatakan...

siang kang
aby mampir sebelum jum'atan
hehe

Memasang Reply Comment pada Blog mengatakan...

ayik tenan. .sore-sore sambil nge-teh baca kang sujud lagi.. :D

catatan kecilku mengatakan...

Jarang sekali menemui orang seperti Sujud itu...
Ternyata, meskipun banyak orang yg memandang rendah padanya, tapi ternyata orang2 spt Sujud itu adalah orang2 yang 'merdeka' ya..?

Muhammad A Vip mengatakan...

Merdeka buat semua.

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

hm...mencoba memahami lebih lagi

Muhammad A Vip mengatakan...

okelah kalo begitu