26.4.15

Sajak-sajak Goenawan Mohamad

Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi


Di beranda ini angin tak kedengaran lagi
Langit terlepas. Ruang menungu malam hari
Kau berkata: pergilah sebelum malam tiba
Kudengar angin mendesak ke arah kita

Di piano bernyanyi baris dari Rubayyat
Di luar detik dan kereta telah berangkat
Sebelum bait pertama. Sebelum selesai kata
Sebelum hari tahu ke mana lagi akan tiba

Aku pun tahu: sepi kita semula
Bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata
Pohon-pohon pun berbagi dingin di luar jendela
Mengekalkan yang esok mungkin tak ada

1966






Tentang Seorang yang Terbunuh di
Sekitar Hari Pemilihan Umum


“Tuhan, berikanlah suara-Mu, kepadaku.”

Seperti jadi senyap salak anjing ketika ronda menemukan
mayatnya di tepi pemetang. Telungkup. Seperti mencari
harum dan hangat padi. Tapi bau asing itu dan dingin pipinya
jadi aneh, di bawah bulan. Dan kemudian mereka pun
berdatangan – senter, suluh, dan kunang-kunang – tapi tak
seorangpun mengenalinya. Ia bukan orang sini, hansip itu berkata.

“Berikanlah suara-Mu.”

Di bawah petromaks kelurahan mereka menemukan liang
luka yang lebih. Bayang-bayang bergoyang sibuk dan beranda
meninggalkan bisik. Orang ini tak berkartu, ia tak bernama.
Ia tak berpartai. Ia tak bertanda gambar. Ia tak ada yang
menangisi, karena kita tak bisa menangisi. Apa gerangan
agamanya?

“Juru peta yang Agung, di manakah tanah airku?”

Lusa kemudian mereka membacanya di koran kota, di
halaman pertama. Ada seorang yang menangis entah mengapa.
Ada seorang yang tak menangis entah mengapa. Ada seorang
anak yang letih dan membikin topi dari koran pagi itu, yang
diterbangkan angin kemudian. Lihatlah. Di udara berpasang
layang-layang, semua bertopang pada cuaca. Lalu burung-
burung sore hinggap di kawat-kawat, sementara bangau-
bangau menuju ujung senja, melintasi lapangan yang gundul
dan warna yang panjang, seperti asap yang sirna.

“Tuhan, berikanlah suara-Mu, kepadaku.”


1971







Kwartin tentang Sebuah Poci


Pada keramik tanpa nama itu
kulihat kembali wajahmu
Mataku belum tolol, ternyata
untuk sesuatu yang tak ada

apa yang berharga pada tanah liat ini
selain separuh ilusi?
sesuatu yang kelak retak
dan kita membikinnya abadi

1973








                  
Penangkapan Sukra


Namaku Sukra, lahir di Kartasura, 17..., di sebuah pagi
Selasa Manis, ketika bulan telah berguling ke balik gunung.

Waktu itu, kata orang, anjing-anjing hutan menyalak panjang,
tinggi dan seorang abdi berkata, “Ada juga lolong srigala
ketika Kurawa dilahirkan.”

Bapakku, bangsawan perkasa itu, jadi pucat.

Ia seolah menyaksikan bayang-bayang semua pohon berangkat
Pergi, tak akan kembali.

Pada umurku yang ke-21, aku ditangkap.

Debu kembali ke tanah
Jejak sembunyi ke tanah
Sukra diseret ke sana
Seluruh Kartasura tak bersuara

Sang bapak menangis kepada angin
Perempuan kepada cermin
“Raden, raden yang bagus,
Pelupukku akan hangus!”

Apa soalnya? Kenapa aku mereka tangkap tiba-tiba?
Para prajurit itu diam, ketika mataku mereka tutup.
Kuda-kuda bergerak. Aku coba rasakan arah dan jarak. Tentu
saja tak berguna.

Pusaran amat panjang, dan tebakan-tebakan amat
sengit, dalam perjalanan itu.
Sampai akhirnya iringan berhenti.
Tempat itu sepi.

“Katakanlah, ki sanak, di manakah ini.”
“Diamlah Raden, tuan sebentar lagi
akan mengetahunya sendiri.”

Ada ruang yang tak kulihat
Ada gema meregang di ruang yang tak kulihat.

Kemudian mataku mereka buka. Lalu kulihat pertama kali
gelap sehabis senja.

Aku pun tahu, setelah itu
tentang nasibku. Malam itu Pangeran, Putra Mahkota telah
menghunus kehendaknya.

Siapakah yang berkhianat
Kelam atau kesumat?
Kenapa nasib tujuh sembilu
Menghadang anak itu

“Tahukah kau, Sukra, kenapa kau kuperintah dibawa kemari?”
(Suara-suara senjata berdetak di lantai)

“Tidak, Gusti.”
“Kausangka kau pemberani?”

Aku tak berani. Mata putra mahkota itu tak begitu nampak,
tapi dari pipinya yang tembem kurasakan geram saling mengetam,
mengirim getarnya lewat bayang-bayang.

Suara itu juga seperti bayang-bayang.

Kau menantangku.”

Kuku kuda terdengar bergeser pada batu.

“Kau menghinaku, kaupamerkan kerupawananmu, kauremehkan
aku, kau pikat perempuan-perempuanku, kaucemarkan
kerajaanku. Jawablah, Sukra.”

Malam hanya dingin
Berbayang-bayang lembing

“Hamba tidak tahu, Gusti.”

Bulan lumpuh ke bumi
Sebelum parak pagi

“Pukuli dia, di sini!”

Duh, dusta yang merah
Kau ingin cicipi asin darah

“Masukkan semut ke dalam matanya!”

Seluruh Kartasura tak bersuara


1979



Zagreb


Ibu itu datang, membawa sebuah bungkusan, datang jauh
dari Zagreb. Ibu itu datang, membawa bungkusan, berisi
sepotong kepala, dan berkata kepada petugas imigrasi yang
memeriksanya: “ini anakku.”

Suaranya tertoreh
di beranda kantor tapal batas.
Orang-orang menoleh.
Cahaya cemas.

Jam di atas meja itu seakan-akan menunjuk
bahwa senja, juga senja,
tak akan bisa lagi meninggalkan mereka.

Lalu ibu itu pun mendekat, dan ia perlihatkan
isi bungkusannya, dan ia bercerita:

“Tujuh tentara menyeretnya dari ranjang rumah sakit, tujuh
tentara membawanya ke tepi hutan dan menyembelihnya,
tujuh musuh yang membunuh sebuah kepala yang terguling
dan menggelepar-gelepar dan baru berhenti, diam, setelah
mulutnya yang berdarah itu menggigit segenggam pasir di sela rerumputan.”

“Kesakitan itu kini terbungkus di sini, dalam sisa kain kafan.
Umurnya baru 21 tahun. Lihat wajahnya. Anak yang rupawan.”

Pohon-pohon platan yang terpangkas, berkerumun
seperti patung-patung purba, bertahun-tahun
lamanya, di pelataran. Gelap mulai diam,
mulai seragam
dan di kejauhan ada sebuah kota, kelihatannya: kaligrafi cahaya,
coretan-coretan api pada ufuk,
isyarat dalam abjad,
kata-kata buruk.

Tak ada yang membikin kita bebas rasanya.
Opsir itu pun terduduk, memimpikan anak-anak, oknum yang
bercerita tentang cheri pertama yang jatuh ke pundak.
Mereka tak ada lagi, bisiknya, tak ada lagi.

Hanya seakan ada yang meneriakan tuhan, lewat lubang angin
di tembok kiri, ke dalam deru hujan, menyeruakkan ajal,
memekikkan ajal, dan desaunya seperti sebuah sembah
yang tak jelas,
nyeri, sebuah doa dalam bekas.

Apa yang ingin kita lakukan setelah ini?
Ibu itu: ia membungkus kembali kepala yang dibawanya,
dari Zagreb, dan melangkah ke jalan.
Orang-orang tak menawarkan diri untuk mengantarkan.
Di sana, di akanan kejauhan, arah raib, zuhrah raib.
Bintang barangkali hanya puing, dan timur, di manapun
timur,
hancur.

Tapi barangkali ia tahu apa nama kota berikutnya.

1994





Firman Ke-12


Aku tak tahu apa yang disebut dalam firman ke-12.
“Mungkin tentang angin dan muara,” katamu.

Kudengar suaramu.

Aku bayangkan garam yang dikais dari ombak,
dan ombak yang di pantai dipatahkan.

Aku bayangkan biduk yang mencari tempat. Mendapat, tak
Mendapat.

Aku tak tahu apa yang disebut dalam firman ke-12.
“Mungkin sebuah amsal yang singkat, tentang
Perjalanan yang kekal, jauh, di atas akhir yang sederhana.”

Dan seseorang akan berangkat, aku tahu tak akan lama.

Barangkali bintang jadi tajam
di dini hari

Aku bayangkan waktu terseret sungai.

2002-2003





Sang Minotaur

                                                                      pada sebuah sketsa Picasso

Di ranjang itu sang Minotaur datang, dan mengendus
tubuhmu, bulu tubuhmu,

yang kian panas,
yang melepas

aroma adas.

Parasmu ranum
seperti biji gandum

di ladang penghabisan.

Dan lenguh yang mengguncang kelambu
membujukmu: kau goyangkan susumu
ke arah seram dan seluruh bau asam,

tatkala hasrat menjulurkan lidah
yang merah

ke syahwat
yang membasah.

Setelah itu, siuman. Dan kematian

di arena di mana lembu jantan
mengais-ngaiskan kaki

di mana detik seperti gugur dari karat matahari,
di plasa tempat nasib menarik picu
pada rembang petang Sabtu.

Kemudian kamar jadi terang.
Dan dari ranjang itu sang Minotaur menghilang.

Jam pun memasuki tanah.

Hanya maut luput,
dari lezat
yang lewat

di pusarmu
di pantatmu
yang tak akan musnah.
                                                                                  1996

Piknik


Untuk pikniknya yang terakhir Tiar menyiapkan telur dadar
dan sejumput merica. Ia bangun pagi sekali. Di tempat mandi dipandangnya sumur: sebuah liang hijau, seperti lorong hutan
yang memanggil. Ia tahu ia tak hendak pergi.

“Tapi aku mesti pergi,” bisiknya sambil menerjunkan timba.
Air terkoyak. Lorong itu mengembalikan bunyi.

35 tahun yang lalu untuk pikniknya yang pertama ia ingat
ia memilih topi katun putih. Si upik mengenakan gaun ros,
dan mengikuti anak-anak yang menari di tepi danau
dengan lagu angan-angan. Ibunya menyiapkan tikar,
menggumamkan sesuatu. Ia seperti dengar suara saluang.

Setelah itu mungkin 20 tahun menyela mereka, memisahkan,
sampai mereka bersua di kereta ke Solo. Mereka tak saling menyapa.
Ia pura-pura melihat ke luar gerbong: sederetan pokok dadap,
kembang merah yang ranum, sisa tanggul yang runtuh.

“Kau masih sendiri?” ia bayangkan ia bertanya.

Tapi si upik yang tak ditatapnya akan selalu memandang ke depan,
dan dari ruang masinis seperti ia dengar seseorang berkata,
“Tak ada lagi.”

Pada pikniknya yang terakhir Tiar tahu apa artinya “tak ada lagi.”


2006




Ia
Menangis


                                                     untuk leleki

di atas kuda kurus yang
akhirnya sampai pada teluk
di mana fantasi adalah hijau
hujan
yang hilang ujung
di laut asing.

Ia menangis,
dan lelaki itu
mendengarnya.

“Aku Don Quixote de la Mancha
majenun yang mencarimu.”

Tubuhnya agak tinggi, tapi
rapuh dan tua sebenarnya.
Ia berdiri kaku.
Cinta tampak telah
menyihirnya
jadi kesatria yang luka
di lambung.
Tapi ia menanti perempuan itu
melambai
dalam interval gerimis
sebelum jalan ditutup
dan mereka mengirim polisi,
tanda waktu,
kematian

2007






30 Menit
sebelum
sayid hamid


30 menit sebelum Sayid Hamid Benengeli
menghentikan hikayatnya, Don Quixote telah merasa
sesuatu tengah terjadi.

Senja mencegatnya di jalan turun ke utara, setelah
San Cristobal. Duduk gontai di punggung Rocinante, ia
melihat ke langit, mencari arah. Tapi bintang tampak
kembung, bimasakti keruh, dan di belakangnya, tak
ada lagi rasi salib selatan.

Dataran kering di bawah itu seakan-akan negeri yang
tak pernah memanggilnya.

Ia merasa letih sebenarnya, setelah Sierra Morena.
Ia berbisik, seperti berdoa: “Jika aku boleh memilih,
Sayid, aku tak ingin di sini lagi.”

Tapi malam adalah monolog pohon-pohon. Bahkan
di tebing Guadalen yang hitam, suara arus ikut
mengambil alih percakapan.

Barangkali kita hanya sebuah
parodi, ia ingin berkata lagi,
tapi ia tak yakin kepada siapa.
Sancho, teman yang setia itu,
hanya memandangi gerak
sungai. Ia mungkin telah
merasa, hari tak akan lagi
berani sia-sia: Dulcinea adalah
cinta yang gagu, tuanku,
imajinasi adalah kabut pagi.

Dan selebihnya sunyi.

Don Quixote mengerti. Pada saat itulah Sayid Hamid
Benengeli mulai membuat tanda terakhir dengan
dawat di kertasnya, seperti sebuah titik, seperti
melankoli. Meskipun yang ingin ditulisnya sederet
epilog yang berbahagia: “Dan Don Quixote pun
melihat, pahlawan terakhir itu telah merenggutkan
jantungnya.”

“Ya, di jurang gua.”


2007





Skhak


Pada pukul 16:00, di bawah jembatan itu ia dengar “skhak.”
Seperti bunyi waktu.

Seorang pemain catur selalu mengatakan kata itu
sebelum saatnya.

Dan seekor kuda rubuh.
Dan bidak lari ke sudut.

Tak ada yang akan mengatakan raja akan tumbang pada
langkah ke-20. Sore dan debu bertaut. Ia bayangkan sebuah
perang dalam asap. Di bawah langit diam, di petak terdepan,
ada selembar bendera dengan huruf yang hampir tak terbaca:
“Akulah pion yang gugur pertama.”

Tapi tak seorang pun tahu kenapa prajurit itu – ia tak
berwajah – berdiri di sana, siap dalam parit, meskipun merasa
bodoh dengan mantelnya yang berat. Di seragamnya tak
tertulis nama. Hari tumbuh makin hitam. Hanya ada cahaya
api di unggun kecil. Hanya ada bau sup pada cerek, seperti bau
busuk pada koreng. Tapi ia berharap.

“Jangan serahkan kami, Maestro, kepada nasib. “ Siapa orang
yang bergumam, siapa yang berdoa? Para uskup berdiri di
petak kanan, di antara kesatria dan kavaleri, putih, hitam,
sebuah deretan kerap sepanjang meja. Jam berdetak-detak
seperti suara tongkat orang buta yang tabah. Ster. Skhak.
“Jangan serahkan kami pada nasib.”

Tapi tiga pion lagi rubuh. Sebuah benteng muncul perkasa
dari pojok. Musuh menyerbu. Sayap kiri bengkah. Di papan
yang datar itu, hanya ada derap bergegas dan terompet
infantri. Parit-parit dikosongkan. Roda-roda kanon didorong.
“Dengarkan suaraku, dengarkan suaraku, komandan peleton!”

Barangkali asap adalah setanggi, Maestro. Barangkali sudah
datang saat berkabung. Akan selalu ada ratu yang dikabarkan
tertawan, dan bendera-bendera diturunkan, dan opsir yang
berpikir: jangan-jangan perang tak mesti berhenti.

Pada batang rokok yang kedua seseorang tertawa: kita akan
pergi, Bung. Tapi di meja itu, di papan itu, pergi serasa
menakutkan. Selalu ada sebuah fantasi tentang menang dan
mengerti, sampai punah bidak di dataran pertama dan kau
dengar “skhak.”

Ia tak tahu apa yang harus diingat dari kata itu.


2010








Tentang Penyair:

Goenawan Mohamad atau GM lahir di Karangasem, Batang, Jawa Tengah pada 29 Juli 1941. Ia adalah penerus tradisi puisi lirik yang dirintis Amir Hamzah (1930an). Tapi puisi lirik GM menjadi semacam “cetak biru” bagi perpuisian Indonesia di kemudian hari. Puisi-puisinya adalah paduan yang sulit terpisahkan antara hasrat bernyanyi dan berpikir sekligus. Di samping musikalitasnya yang amat menonjol, puisi-puisi GM juga sarat oleh percikan ilsaat, dan soal-soal lain dalam kehidupan sehari-hari kita. Dalam terminologi Heidegger ia adalah “penyair selaku pemikir”, atau sebaliknya.

Buku-buku eseinya: Kumpulan esei Catatan Pinggir, Potret Seorang Penyair Sebagai si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra dan Kita (1980), Kesusastraan dan Kekuasaan (1993), Ekstosopi (2002), Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai (2007).

Buku-buku puisinya: Manifestasi (bersama 7 penyair lain; 1963), Parikesit (1973), Interlude (1973), Asmaradana (1992), Misalkan Kita di Sarajevo (1998), Sajak-sajak Lengkap 1961-2001 (2001), Selected Poems (Indonesia-Inggris; 2004), Tujuhpuluh Puisi dan Don Quixote.



3 komentar:

Yudi Darmawan mengatakan...

emang kalo dibaca gaya2nya kayak puisi modern jaman sekarang sih untuk pengexpresiannya, kata2 juga lumayan berani untuk ukuran jaman itu..

Muhammad Affip mengatakan...

mungkin begitu, bro. beliau memang sastrawan unggulan yg banyak makmumnya

Fahrizal Mukhdar mengatakan...

Sungguh, membaca puisi ini, semacam kembali ke masa lampau. Realistis, dinamis dan mistis. Haha. Nyambung gak nih? Jujur, puisinya jelas dan tegas. Khas puisi reformasi dulu.