31.12.10

Ketika Harus Menafsir Puisi Berhadiah

Menafsir puisi? Siapakah gerangan yang suka menafsir puisi, rasanya aku tidak. Tahu benar apa itu puisi saja rasanya aku ragu. Puisi...ah! Menafsir...? Uh!

Tapi seorang teman (Sang Cerpenis Bercerita) meminta puisi dari Sang Pangerannya ditafsir, entah maksudnya apa...aku rasa bercanda. Dan aku di sini mencoba merespon permintaannya, tapi mungkin bukan menafsir melainkan menapsir (?). Mari...


Judul puisi itu PUISIMU, PUISIKU. Ini tak perlu ditafsir rasanya sudah jelas meski dilihat dari jarak 10 Km jauhnya. Sepasang kekasih yang ingin terus dekat pastinya sebisa mungkin menjadikan setiap sesuatu adalah milik berdua.

Pada bait pertama rasanya kejujuran Sang Pangeran yang jadi pokoknya. Lihatlah dua baris berikut:
Betapa sulitnya Merayu
Ketika Jempol Kaki Terantuk Batu
Tentu saja si penyair pada saat menuliskan bait itu tidak sedang atau baru saja jempol kakinya terantuk batu. Buktinya dia bisa merayu, menulis puisi berjudul PUISIMU, PUISIKU jelas sekali sebuah rayuan. Tapi kenapa ada kalimat Ketika Jempol Kaki Terantuk Batu di sana? itulah yang kukatakan kejujuran sebagai pokok. Si penyair kelihatannya ingin dinilai kejujuran dirinya.

Berikutnya:
Amboi nyut ..nyut...
nyut nyut ...
Hati siapa tak berdenyut

Amboi Nyut Nyut...
Hati Siapa Tak Terajut

Tak akan terbayang nyut...nyut...itu denyut jempol kaki yang terantuk batu pastinya. Dan pastinya si penyair sedang bergairah asmaranya.


Lihatlah gairahnya di sini. Si penyair sepertinya yakin benar.
Kita Rajut Ikan Paus
dengan Benang Merah Muda
Sambil menyanyi penuh mesra
"Menanam Jagung di Kebun Kita "

Hai ambilkan jarum dong...
Oke..oke...dang ding dong....

Ikan paus adalah besarnya harapan yang ingin ia coba yakinkan. Benang merah muda, apalagi kalau bukan cinta yang bisa menjalin harapan besar itu. Lalu dengan syair "Menanam... "kian jelaslah semua, tujuan itu nyata di depan mata. Tinggal: Hai ambilkan jarum...


Waktu Berjalan Tak terasa
Seperti memang seharusnya

Sampai di sini kian jelas, seperti pada bait awal dikatakan  tentang kejujuran,  demikianlah adanya. Dan gairah itu sepertinya kian tak terbendung. Lihatlah...
Astaga Paus itu membesar
Membesar ..
membesar........
membesar............
.......memenuhi ...
Samudra


Nah, buat yang menerima puisi ini menangislah. Konon Pak Habibi (mantan Presiden RI) selalu menangis setiap kali mengingat almarhum istrinya, dan menurut dokter itu obat terbaik karena dari setiap tetes air mata yang keluar terbuanglah banyak racun dari dalam tubuh. Semoga badan tetap sehat, panjang umur dan bahagia berdua selamanya.

Sudah rasanya tapsir puisi yang saya tujukan untuk ikut meramaikan Tafsir Puisi Berhadiah-nya Mbak Fanny. Untuk hadiahnya terserah mau dikasih novel apa saja, soalnya semuanya kelihatannya bagus.

14 komentar:

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

wah, ikutan juga toh. makasih ya...kok tak ada pilihan novel? hehehe

Muhammad A Vip mengatakan...

ini strategi aja, siapa tau ada novel yang tak ada pemilihnya, berarti jatah saya.

Penghuni 60 mengatakan...

halah MataVip ikut2n jd penafsir jg toh...
mau donk mimpiku ditafsir... hehe..
:D

smoga menang ya sob.. met tahun baru...
SEMANGAT 2011...!!!

r10 mengatakan...

bahasa pujangga hanya bisa dimengerti oleh pujangga :D

saya sering pusing kalau mengunjungi blog puisi mas :D

alkatro mengatakan...

wah asyik tenan kalao dapet buku novel gratis, moga saja dapet mas :)
met liburan, tahun baru kemana nih mas..
menanam jagung di kebun kita :D

TUKANG CoLoNG mengatakan...

semoga menang pak...:)

Goyang Karawang mengatakan...

menulis dan menafsir kadang sama asyiknya ya bos..

kartunmania mengatakan...

berusaha menyimak, sebatas kemampuan intuisi tumpulku bro..
Mantab, semoga menang.. :)

Miz Hl mengatakan...

Kerne neh tafsirannya...

Ocky Fajzar mengatakan...

hemm hehe kurang jago beginian, dibaca 3 kali baru sedikit mudeng hehehe salam kenal :)

catatan kecilku mengatakan...

Wah aku angkat tangan kalau harus menafsirkan puisi itu... berat. Gak mampu aku memahaminya

the others.... mengatakan...

Akhirnya berhasil menang dan dapat novel tidak ya...?

Merli mengatakan...

kuang pandai masalah puisi :(

Muhammad A Vip mengatakan...

saya menafsir ini terpaksa...karena ingin novel gratis. hehe